Apakah ada Jawa Selatan sebagai provinsi resmi di Indonesia? Pertanyaan ini sering muncul di media sosial, terutama setelah viralnya diskusi tentang pemekaran wilayah. Banyak orang penasaran apakah benar ada wilayah bernama Provinsi Jawa Selatan, atau ini hanya isu belaka. Dalam artikel ini, kita akan bahas secara lengkap fakta geografis, administratif, dan wacana terkini seputar topik ini. Mari kita telusuri bersama.
Pembagian Administratif Pulau Jawa Saat Ini
Pulau Jawa merupakan pulau terpadat di Indonesia. Secara administratif, pulau ini terbagi menjadi enam provinsi utama. Mulai dari barat, ada Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Tidak ada provinsi bernama Jawa Selatan dalam daftar resmi ini.
Bayangkan saja, Jawa Barat mencakup wilayah seperti Bandung dan Bogor. Sementara Jawa Tengah punya Semarang sebagai ibu kota, dengan daerah selatannya yang kaya pertanian. Jawa Timur? Surabaya jadi pusatnya, dengan kawasan selatan yang berbukit. Yogyakarta unik sebagai daerah istimewa. Banten dan Jakarta berdiri sendiri. Jadi, secara resmi, Jawa Selatan belum ada sebagai entitas provinsi.
Namun, istilah “Jawa Selatan” sering merujuk pada bagian selatan pulau Jawa secara geografis. Ini mencakup pantai selatan yang membentang dari Banten hingga Jawa Timur. Pantai-pantai seperti Parangtritis atau Pelabuhan Ratu termasuk di sini. Tapi, ini bukan provinsi administratif.
Apakah Jawa Selatan Benar-Benar Ada Secara Geografis?
Mari kita lihat dari sisi geografi. Pulau Jawa memang punya bagian selatan yang distinct. Daerah ini dikenal dengan pegunungan, pantai berbatu, dan iklim yang lebih basah dibanding utara. Contohnya, Gunung Merapi di utara, tapi selatan punya Gunung Kidul yang kering.
Beberapa orang salah paham, mengira Jawa Selatan seperti Jawa Barat atau Jawa Tengah. Padahal, ini lebih ke deskripsi arah mata angin. Dalam video TikTok populer, seseorang menjelaskan Jawa Selatan sebagai istilah geografis untuk bagian selatan Jawa. Ini bikin banyak netizen bingung, tapi sebenarnya masuk akal.
Saya sendiri berpendapat, istilah seperti ini berguna untuk memahami variasi budaya dan alam di Jawa. Misalnya, dialek Banyumasan di selatan Jawa Tengah beda dengan Jawa Timuran. Tapi, tanpa status provinsi, ini tetap bagian dari provinsi existing.
Mitos dan Hoaks Seputar Jawa Selatan
Bicara soal mitos, belakangan muncul cerita lucu tentang “Kota Bolokotono” di Jawa Selatan. Ini berawal dari TikTok di mana seseorang klaim asal dari sana, dekat “Monokorobo”. Ternyata, ini candaan belaka. Bolokotono bahkan muncul di Google Maps sebagai “head office”, tapi bukan kota resmi. Artikel Pikiran Rakyat menyebutkan empat “fakta” ini, tapi jelas satir karena nama-namanya absurd.
Lalu, ada hoaks tentang Kebumen jadi ibu kota Provinsi Jawa Selatan. Unggahan di media sosial bilang pemekaran akan terjadi, dengan daftar kabupaten seperti Banjarnegara dan Cilacap. Tapi, ini dibantah. Situs Blitar Kota menyatakan narasi itu hoaks, karena tidak ada rencana resmi dari pemerintah. Kompas.com juga konfirmasi, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya bilang pemekaran ditunda karena anggaran dan prioritas lain.
Menurut saya, hoaks seperti ini berbahaya karena bikin masyarakat salah harap. Lebih baik cek sumber resmi seperti Kemendagri.
Wacana Pemekaran Provinsi Jawa Selatan dari Jawa Tengah
Sekarang, mari bahas wacana serius. Ada usulan pembentukan Provinsi Jawa Selatan dari bagian selatan Jawa Tengah, disebut Jasela atau Jateng Selatan. Wilayahnya meliputi Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Wonosobo. Ini dikenal sebagai Barlingmascakebpurwo.
Alasannya? Untuk percepatan pembangunan ekonomi, pengurangan kemiskinan, dan pengembangan potensi daerah. Daerah ini kuat di pertanian dan kelautan, bisa jadi penyangga pangan nasional. Anggota DPD RI Abdul Kholik usulkan ini setelah pengawasan lima tahun, bilang butuh skema khusus.
Pakar kebijakan publik dari Unsoed, Prof. Slamet Rosyadi, setuju ide menarik tapi butuh kajian mendalam. Beliau bilang jangan asal politik, karena beban finansial besar buat Jawa Tengah. Saran alternatif: Optimalkan pengembangan wilayah tanpa pemekaran, dengan gubernur fokus ke daerah tertinggal.
Pendapat saya, pemekaran bisa bantu pemerataan, tapi risikonya korupsi dan birokrasi baru. Lihat saja Papua yang pecah jadi beberapa provinsi.
Potensi Ekonomi di Jasela
Jasela punya pantai selatan yang potensial untuk perikanan. Cilacap punya pelabuhan besar. Pertanian di Kebumen dan Purworejo hasilkan beras berkualitas. Jika jadi provinsi, bisa tarik investasi lebih banyak.
Tapi, tantangannya infrastruktur. Jalan di selatan Jawa Tengah masih banyak yang rusak. Kajian harus hitung biaya ini.
Pendapat Masyarakat Lokal
Banyak warga Jasela dukung, karena merasa terabaikan dibanding Semarang. Survei informal di media sosial tunjukkan 60% setuju pemekaran. Tapi, ada yang khawatir pecah persatuan budaya Jawa.
Wacana Provinsi Jawa Selatan dari Jawa Timur
Tidak hanya dari Jawa Tengah, ada juga usulan dari Jawa Timur. Disebut Provinsi Mataraman atau Jawa Selatan, melibatkan 13 kabupaten/kota: Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Madiun, dan lainnya (daftar lengkap mencakup wilayah selatan Jatim).
Kota Kediri digadang jadi ibu kota karena posisi sentral dan infrastruktur bagus. Isu ini muncul karena ketimpangan pembangunan di Jatim, di mana Surabaya dominan.
Radar Kediri bahas ini sebagai wacana baru, dengan potensi ekonomi Mataraman yang kaya budaya dan pertanian. Saya rasa ini logis, karena Mataraman punya identitas kuat dari era kerajaan Majapahit.
Sejarah Mataraman
Mataraman merujuk pada wilayah pengaruh Mataram Islam dulu. Budaya seperti wayang dan gamelan kuat di sini. Pemekaran bisa lestarikan warisan ini.
Tapi, seperti Jasela, ini masih wacana. Pemerintah pusat bilang belum ada rencana dekat.
Dampak Sosial
Jika terwujud, bisa ciptakan lapangan kerja baru di birokrasi. Tapi, risiko konflik batas wilayah antar provinsi lama dan baru.
Mengapa Wacana Pemekaran Muncul?
Pemekaran provinsi bukan hal baru di Indonesia. Sejak reformasi 1998, banyak daerah pecah untuk otonomi lebih besar. Contoh, Banten lepas dari Jawa Barat tahun 2000. Alasannya serupa: Pemerataan pembangunan.
Di Jawa, kepadatan penduduk tinggi, jadi ketimpangan mudah terlihat. Selatan Jawa sering tertinggal karena fokus pemerintah ke utara yang lebih industri. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian bilang ada jalur khusus tanpa moratorium untuk daerah istimewa.
Pendapat ahli seperti Rosyadi: Butuh logika kuat, bukan politik murahan. Saya setuju, pemekaran harus berdasar data, bukan janji kampanye.
Pro dan Kontra Pembentukan Provinsi Baru
Keuntungan
Pertama, percepatan infrastruktur. Provinsi baru bisa alokasikan anggaran khusus untuk jalan dan irigasi. Kedua, pemberdayaan lokal. Masyarakat selatan Jawa bisa pilih pemimpin yang paham isu mereka. Ketiga, ekonomi nasional. Sebagai penyangga pangan, bisa stabilkan harga beras.
Kerugian
Biaya tinggi. Pemerintah pusat harus subsidi awal. Risiko korupsi di tingkat baru. Juga, pecah identitas Jawa yang sudah solid.
Menurut saya, pro lebih besar jika dikelola baik. Lihat Sulawesi Utara yang sukses setelah pemekaran.
Bagaimana Masa Depan Jawa Selatan?
Saat ini, Jawa Selatan belum ada sebagai provinsi. Tapi wacana terus bergulir. Kemendagri punya 337 usulan pemekaran, termasuk 42 provinsi baru. Pemerintah fokus revisi UU dulu.
Saran saya, masyarakat ikut kawal. Diskusikan di forum lokal, bukan cuma media sosial. Jika benar terwujud, bisa jadi babak baru bagi pembangunan Jawa.
Kesimpulan
Jadi, apakah ada Jawa Selatan? Secara resmi tidak, tapi secara geografis ya. Wacana pemekaran dari Jawa Tengah dan Jawa Timur menarik, dengan potensi besar. Tapi, butuh kajian matang. Semoga artikel ini bantu jawab rasa penasaranmu. Bagikan pendapatmu di komentar!
REFERENSI: SULTAN178






Leave a Reply