Sejarah Bendera Merah Putih: Jejak Panjang Simbol Bangsa Indonesia

Sejarah Bendera Merah Putih Jejak Panjang Simbol Bangsa Indonesia

Sejarah bendera merah putih mencerminkan perjalanan panjang bangsa Indonesia dari masa kerajaan hingga kemerdekaan. Bendera ini bukan sekadar kain berwarna, tapi lambang perjuangan dan identitas nasional. Mari kita telusuri asal usulnya yang kaya akan nilai historis.

Asal Usul Bendera Merah Putih di Masa Kerajaan Kuno

Warna merah dan putih sudah melekat dalam budaya Nusantara sejak ribuan tahun lalu. Para sejarawan sering menelusuri akarnya hingga mitologi Austronesia. Menurut catatan kuno, merah melambangkan bumi atau ibu, sementara putih mewakili langit atau ayah. Dualisme ini muncul di banyak masyarakat Austronesia, termasuk di Indonesia, Tahiti, dan Madagaskar. Saya pikir, simbolisme ini menunjukkan betapa warna sederhana bisa menyatukan filosofi alam dengan kehidupan sehari-hari.

Selain itu, teknik pewarnaan kain kuno memungkinkan pembuatan panji merah putih. Kain putih berasal dari kapas alami, sedangkan merah dari daun jati, belimbing wuluh, atau kulit manggis. Praktik ini sudah ada sejak era pra-Majapahit. Transisi ke bukti sejarah lebih konkrit membawa kita ke kerajaan-kerajaan Jawa.

Bendera Merah Putih di Kerajaan Kediri

Catatan pertama tentang penggunaan bendera merah putih muncul pada abad ke-12. Pada 1292 M, pasukan Raja Jayakatwang dari Kerajaan Kediri menggunakan panji merah putih saat menyerang Kerajaan Singasari di bawah Prabu Kertanegara. Buku Pararaton mencatat hal ini dengan jelas. Ini bukan sekadar bendera perang, tapi simbol kekuatan. Bayangkan, di tengah pertempuran sengit, warna itu berkibar sebagai tanda keberanian.

Menurut ahli sejarah seperti yang dikutip dari sumber terpercaya, penggunaan ini menandai awal pemuliaan merah putih di Jawa. Saya setuju dengan pendapat bahwa ini membuktikan warna tersebut sudah menjadi bagian dari identitas budaya, bukan impor dari luar.

Peran Bendera di Kerajaan Majapahit

Majapahit membawa warna merah putih ke tingkat kebesaran. Pada abad ke-13 hingga 16, kerajaan ini menggunakan panji merah putih sebagai lambang kemuliaan. Mpu Prapanca dalam Negarakertagama menggambarkan bagaimana warna itu selalu hadir di upacara Prabu Hayam Wuruk dari 1350 hingga 1389 M. Bendera ini bukan aksesori, tapi pusat ritual kerajaan.

Para pakar seperti yang disebutkan dalam catatan sejarah, menilai Majapahit sebagai puncak penggunaan simbol ini. Di luar Jawa, kerajaan seperti Bone di Sulawesi Selatan punya Woromporong, bendera merah putih serupa. Saya rasa, ini menunjukkan betapa luas pengaruh simbol ini di Nusantara. Transisi ke masa penjajahan, warna ini tetap hidup sebagai bentuk perlawanan.

Penggunaan Bendera Merah Putih dalam Perjuangan Melawan Penjajah

Perjuangan bangsa tak lepas dari simbol merah putih. Pada abad ke-19, warna ini bangkit sebagai alat protes. Pangeran Diponegoro memakainya dalam Perang Jawa (1825-1830) melawan Belanda. Panji merah putih berkibar di medan perang, menyuntik semangat pejuang.

Menurut sejarawan, ini adalah bentuk kebangkitan nasional dini. Saya percaya, Diponegoro tak hanya berperang fisik, tapi juga simbolik, mengingatkan rakyat akan warisan leluhur.

Kebangkitan di Awal Abad ke-20

Awal 1900-an, mahasiswa dan nasionalis menghidupkan kembali merah putih. Pada 1922, Ki Hajar Dewantara mengusulkannya sebagai bendera resmi. Bendera pertama kali berkibar di Jawa pada 1928, meski Belanda melarangnya.

Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 jadi momen ikonik. Bendera merah putih dikibarkan sambil menyanyikan Indonesia Raya. Ini bukan kebetulan, tapi deklarasi persatuan. Pakar sejarah menilai ini sebagai tonggak nasionalisme modern. Dari sini, transisi ke kemerdekaan semakin dekat.

Larangan Kolonial dan Semangat Tersembunyi

Belanda melarang bendera ini karena takut memicu pemberontakan. Namun, nasionalis tetap gunakan secara sembunyi. Saya pikir, larangan justru memperkuat maknanya sebagai simbol perlawanan. Sejarah menunjukkan, represi tak pernah matikan api kemerdekaan.

Momen Proklamasi: Pengibaran Bendera Pusaka

Puncak sejarah bendera merah putih terjadi pada 17 Agustus 1945. Bendera pertama, dijahit Fatmawati, istri Soekarno, dikibarkan di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Disebut Bendera Pusaka, ini simbol lahirnya Republik Indonesia.

Fatmawati menggunakan kain dari Jepang untuk merah dan sprei putih. Pengibaran oleh Latief Hendraningrat, Suhud, dan SK Trimurti jadi cerita heroik. Setelah proklamasi, bendera ini disimpan aman selama perang kemerdekaan.

Menurut saya, momen ini tak hanya historis, tapi emosional. Ini mengingatkan kita pada pengorbanan para pahlawan.

Desain Resmi dan Aturan Penggunaan

Bendera punya rasio 2:3, merah di atas putih. Resmi diadopsi saat penyerahan kedaulatan dari Belanda pada 1949. Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 mengatur penggunaannya. Bendera Pusaka kini hanya dikibarkan di Istana Merdeka setiap 17 Agustus, diganti replika karena usia.

Makna Filosofis Bendera Merah Putih

Merah melambangkan keberanian, putih kesucian. Ini bukan asal pilih, tapi warisan budaya. Di Minangkabau, merah untuk hulubalang, putih untuk ulama.

Pakar seperti yang dikutip dari sumber sejarah, melihat makna ini sebagai dualisme kehidupan. Saya setuju, bendera ini ajak kita seimbang antara semangat dan kemurnian hati.

Simbolisme dalam Konteks Modern

Hari ini, bendera merah putih hadir di setiap acara nasional. Ini ingatkan kita pada persatuan di tengah keragaman. Transisi ke fakta menarik, ada banyak hal unik tentangnya.

Fakta Menarik Seputar Bendera Indonesia

Pertama, bendera mirip Monaco, tapi Indonesia lebih lebar dan merah lebih gelap. Kedua, Bendera Pusaka pernah dipisah jadi dua bagian selama pendudukan Jepang untuk keamanan.

Ketiga, penggunaan awal di kerajaan bukan horizontal, tapi sering vertikal atau bergaris sembilan seperti di Majapahit. Keempat, pada 1944, Jepang izinkan kemerdekaan, tapi bendera baru resmi 1945. Saya rasa, fakta ini buat kita lebih menghargai sejarahnya.

Kelima, di Batak, Sisingamangaraja IX gunakan bendera merah dengan pedang putih. Ini tunjukkan betapa simbol ini lintas suku.

Pentingnya Menghormati Bendera sebagai Warisan Bangsa

Menghormati bendera berarti hormati sejarah. Di era digital, kita sering lihat penyalahgunaan seperti bendera robek atau dipakai sembarangan. Pakar pendidikan nasionalisme bilang, pendidikan sejak dini kunci.

Saya opine, bendera ini jiwa bangsa. Ajak anak muda pelajari asal usul bendera merah putih agar tak lupa akar. Ini bukan formalitas, tapi komitmen.

Cara Menjaga dan Mengibarkan dengan Benar

Ikuti aturan: Kibarkan setengah tiang saat duka, jangan biarkan menyentuh tanah. Pendidikan ini bangun rasa bangga.

Kesimpulan: Bendera Merah Putih, Abadi dalam Hati Bangsa

Sejarah bendera merah putih ajarkan kita tentang ketahanan. Dari kerajaan hingga sekarang, ini tetap simbol persatuan. Mari jaga agar generasi mendatang tetap bangga.